Langsung ke konten utama

Postingan

Mendengarkan & Mencoba: Jalan Menuju Pertumbuhan

  Kutipan Thomas Jefferson, "Untuk belajar, Anda harus mendengarkan. Untuk berkembang, Anda harus mencoba,"  mengarah pada sebuah proses pembelajaran dan pertumbuhan yang dinamis. Namun, mendengarkan dan mencoba tidaklah cukup tanpa disertai kemampuan untuk mengevaluasi saran, mempertimbangkan dampak jangka panjang, dan fleksibilitas untuk mengubah keputusan jika diperlukan.  Mendengarkan:  Konsep "mendengarkan"  dengan pemahaman yang mendalam  mengingatkan kita pada ajaran Socrates.  Metode Sokratik menekankan pentingnya dialog dan pertanyaan kritis untuk menggali kebenaran.  Mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan yang tepat, dan mengevaluasi argumen lawan bicara merupakan inti dari metode ini.  Bukan sekadar menerima informasi secara pasif, tetapi aktif terlibat dalam proses pencarian pengetahuan. Mencoba dan Fleksibilitas:  Aspek "mencoba" dan fleksibilitas dalam mengubah keputusan jika diperlukan,  mencerminkan pemikir...

Teori vs. Realita: Dilema Moral dan Inkonsistensi Para Aktor Pembelajar dalam Pengelolaan Sampah

                 Gambar: VIVA.co.id/Istimewa Perubahan iklim, yang sebagian besar didorong oleh emisi gas rumah kaca, merupakan ancaman serius terhadap keberlanjutan planet kita. Pembakaran sampah, sebagai penyumbang signifikan emisi gas rumah kaca (termasuk CO2 dan CH4) dan pencemaran lingkungan (tanah dan air),  seharusnya menjadi praktik yang dihindari.  Ironisnya, kebijakan baru yang mengizinkan pembakaran sampah di tengah kelompok terdidik menimbulkan dilema moral yang mendalam.  Kebijakan ini tidak hanya mengabaikan dampak lingkungan yang telah dipahami dengan baik, tetapi juga mengungkap inkonsistensi perilaku di antara para aktor pembelajar yang sebelumnya telah menyepakati larangan pembakaran sampah. Dilema ini berakar pada kesenjangan antara pengetahuan teoritis dan tindakan nyata.  Meskipun kelompok pembelajar ini, yang telah sering mengikuti seminar ekologi, memahami prinsip-prinsip pengelolaan sampah berkelanj...

Mary Jane Veloso: Simbol Perjuangan dan Keadilan bagi Pekerja Migran

Doa Bersama dan Seruan Solidaritas untuk Mary Jane di Interfidei: Institut Dialog Antar Iman di Indonesia DIAN/Interfidei Indonesia menggelar doa bersama pada 18 Desember untuk merayakan kepulangan Mary Jane Veloso ke Filipina. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai komunitas, aktivis HAM, organisasi pemerhati isu perdagangan manusia, tokoh lintas agama, dan uskup dari Indonesia dan Filipina. Kardinal Ignasius Suharyo turut hadir memberikan refleksi yang menggarisbawahi martabat hidup manusia dan keadilan sebagai hak setiap individu, serta menyampaikan harapan akan sikap pengampunan dari pemerintah.  Kehadiran semua pihak ini menegaskan komitmen bersama untuk mengawal kasus Mary Jane hingga tuntas dan memperjuangkan hak-hak pekerja migran perempuan lainnya.  Mary Jane bersama Kedua Anaknya Setelah 15 Tahun Berpisah Latar Belakang Kasus Mary Jane Veloso Pada tahun 2010, Mary Jane ditangkap di Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta, karena membawa 2,6 kilogram heroin yang disembuny...

Langkah Maju: Perempuan Bergabung dalam Dewan Konsili Umum Sinode Vatikan

  Justin McLellan Catholic News| Service December 13, 2024  For the first time, women will serve on the Ordinary Council of the General Secretariat of the Synod. Sebuah tonggak sejarah terukir dalam perjalanan Gereja Katolik. Untuk pertama kalinya, dua perempuan ditunjuk sebagai anggota dewan Konsili Umum Sekretariat Umum Sinode Vatikan. Penunjukan ini menandai langkah signifikan dalam proses sinodal Gereja, yang menekankan partisipasi aktif semua anggota Gereja dalam pengambilan keputusan. Suster Simona Brambilla, Sekretaris Dikasteri untuk Lembaga Kehidupan Bakti dan Serikat Kehidupan Apostolik, dan María Lía Zervino, anggota Dikasteri untuk Uskup, kini bergabung dengan dewan Konsili Umum yang sebelumnya hanya terdiri dari para uskup. Penunjukan ini diumumkan pada 13 Desember 2024 oleh Paus Fransiskus, yang juga menunjuk Kardinal Jean-Claude Hollerich dari Luxembourg dan Kardinal Roberto Repole dari Turin, Italia, sebagai anggota dewan. Penunjukan ini bukan hanya sebuah simb...

Populisme, Kepercayaan, dan Pendidikan: Refleksi atas Pemilihan di Amerika Serikat

  (iStock) Pada sebuah majalah America, James F. Keenan, S.J., menulis "What comes next? A moral theologian’s 5 post-election takeaways". Tulisan tersebut memberikan perspektif krusial tentang dampak pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2024, khususnya kemenangan Donald Trump.  Lima poin penting yang diangkat Keenan, memiliki relevansi yang kuat tidak hanya untuk Amerika Serikat, tetapi juga untuk konteks global, termasuk Indonesia. Keenan melihat kemenangan Trump sebagai kemenangan bagi populisme, sebuah aliansi antara massa, pemimpin, pendukung kaya, dan kepentingan yang terjalin.  Kenaikan populisme ini diiringi oleh runtuhnya kepercayaan sosial, di mana pemimpin populis memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat dengan mempromosikan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga negara dan kelompok-kelompok tertentu. Fenomena ini tidak asing bagi Indonesia, di mana polarisasi politik dan ketidakpercayaan terhadap lembaga negara semakin meningkat. Hal ini mengancam stabilita...

COP29: Utang Ekologis Global

  Demonstrasi aktivis iklim di Baku, Azerbaijan, memprotes target pendanaan $300 miliar yang disepakati COP29 untuk negara berkembang hingga 2035. (Perubahan Iklim PBB/Kiara Worth) COP29: Kegagalan Pendanaan Iklim dan Ketimpangan Gender dalam Krisis Iklim Global   Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 (COP29) di Baku, Azerbaijan, menandai titik kritis dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.  Pertemuan tersebut tidak hanya ditandai oleh perdebatan sengit mengenai target pendanaan iklim—dengan kesepakatan akhir yang jauh dari angka triliunan dolar yang dibutuhkan—tetapi juga oleh demonstrasi besar-besaran dan kecaman, termasuk dari pejabat Gereja Katolik, yang menyoroti ketidakadilan mendasar dalam respons global terhadap krisis ini.  Lebih jauh lagi, COP29 mengungkap ketidaksetaraan gender yang signifikan dalam dampak dan respons terhadap perubahan iklim, sebuah isu yang disuarakan secara lantang oleh para biarawati Katolik dan organisasi perempuan.   ...

Seruan Paus Fransiskus: Prioritas Kemanusiaan di Atas Politik

  (Photo CNS /Lola Gomez) Seruan Paus Fransiskus untuk mengakhiri hukuman mati, mengalihkan dana militer ke program-program kemanusiaan, dan menghapus utang negara-negara berkembang merupakan lebih dari sekadar seruan politik; ini adalah deklarasi moral yang kuat yang berakar pada prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dan etika keberlanjutan.  Pernyataan yang disampaikan menjelang Tahun Yobel – sebuah periode pengampunan dan pembaruan rohani – merupakan pengingat akan tanggung jawab kolektif kita terhadap keadilan sosial, martabat manusia, dan keberlanjutan planet ini. Pertama, seruan untuk menghapus hukuman mati selaras dengan Deklarasi Universal HAM, yang menjamin hak untuk hidup.  Hukuman mati, sebagai pencabutan hak hidup yang disengaja, merupakan pelanggaran HAM yang serius. Paus Fransiskus, dengan konsisten menolak hukuman mati, menekankan martabat intrinsik setiap individu, terlepas dari kejahatannya.  Ia menyerukan pendekatan yang lebih manusiawi, berfokus ...