Langsung ke konten utama

Postingan

Mary Jane Veloso: Simbol Perjuangan dan Keadilan bagi Pekerja Migran

Doa Bersama dan Seruan Solidaritas untuk Mary Jane di Interfidei: Institut Dialog Antar Iman di Indonesia DIAN/Interfidei Indonesia menggelar doa bersama pada 18 Desember untuk merayakan kepulangan Mary Jane Veloso ke Filipina. Acara tersebut dihadiri oleh berbagai komunitas, aktivis HAM, organisasi pemerhati isu perdagangan manusia, tokoh lintas agama, dan uskup dari Indonesia dan Filipina. Kardinal Ignasius Suharyo turut hadir memberikan refleksi yang menggarisbawahi martabat hidup manusia dan keadilan sebagai hak setiap individu, serta menyampaikan harapan akan sikap pengampunan dari pemerintah.  Kehadiran semua pihak ini menegaskan komitmen bersama untuk mengawal kasus Mary Jane hingga tuntas dan memperjuangkan hak-hak pekerja migran perempuan lainnya.  Mary Jane bersama Kedua Anaknya Setelah 15 Tahun Berpisah Latar Belakang Kasus Mary Jane Veloso Pada tahun 2010, Mary Jane ditangkap di Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta, karena membawa 2,6 kilogram heroin yang disembuny...

Langkah Maju: Perempuan Bergabung dalam Dewan Konsili Umum Sinode Vatikan

  Justin McLellan Catholic News| Service December 13, 2024  For the first time, women will serve on the Ordinary Council of the General Secretariat of the Synod. Sebuah tonggak sejarah terukir dalam perjalanan Gereja Katolik. Untuk pertama kalinya, dua perempuan ditunjuk sebagai anggota dewan Konsili Umum Sekretariat Umum Sinode Vatikan. Penunjukan ini menandai langkah signifikan dalam proses sinodal Gereja, yang menekankan partisipasi aktif semua anggota Gereja dalam pengambilan keputusan. Suster Simona Brambilla, Sekretaris Dikasteri untuk Lembaga Kehidupan Bakti dan Serikat Kehidupan Apostolik, dan María Lía Zervino, anggota Dikasteri untuk Uskup, kini bergabung dengan dewan Konsili Umum yang sebelumnya hanya terdiri dari para uskup. Penunjukan ini diumumkan pada 13 Desember 2024 oleh Paus Fransiskus, yang juga menunjuk Kardinal Jean-Claude Hollerich dari Luxembourg dan Kardinal Roberto Repole dari Turin, Italia, sebagai anggota dewan. Penunjukan ini bukan hanya sebuah simb...

Populisme, Kepercayaan, dan Pendidikan: Refleksi atas Pemilihan di Amerika Serikat

  (iStock) Pada sebuah majalah America, James F. Keenan, S.J., menulis "What comes next? A moral theologian’s 5 post-election takeaways". Tulisan tersebut memberikan perspektif krusial tentang dampak pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2024, khususnya kemenangan Donald Trump.  Lima poin penting yang diangkat Keenan, memiliki relevansi yang kuat tidak hanya untuk Amerika Serikat, tetapi juga untuk konteks global, termasuk Indonesia. Keenan melihat kemenangan Trump sebagai kemenangan bagi populisme, sebuah aliansi antara massa, pemimpin, pendukung kaya, dan kepentingan yang terjalin.  Kenaikan populisme ini diiringi oleh runtuhnya kepercayaan sosial, di mana pemimpin populis memanfaatkan ketidakpuasan masyarakat dengan mempromosikan ketidakpercayaan terhadap lembaga-lembaga negara dan kelompok-kelompok tertentu. Fenomena ini tidak asing bagi Indonesia, di mana polarisasi politik dan ketidakpercayaan terhadap lembaga negara semakin meningkat. Hal ini mengancam stabilita...

COP29: Utang Ekologis Global

  Demonstrasi aktivis iklim di Baku, Azerbaijan, memprotes target pendanaan $300 miliar yang disepakati COP29 untuk negara berkembang hingga 2035. (Perubahan Iklim PBB/Kiara Worth) COP29: Kegagalan Pendanaan Iklim dan Ketimpangan Gender dalam Krisis Iklim Global   Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 (COP29) di Baku, Azerbaijan, menandai titik kritis dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.  Pertemuan tersebut tidak hanya ditandai oleh perdebatan sengit mengenai target pendanaan iklim—dengan kesepakatan akhir yang jauh dari angka triliunan dolar yang dibutuhkan—tetapi juga oleh demonstrasi besar-besaran dan kecaman, termasuk dari pejabat Gereja Katolik, yang menyoroti ketidakadilan mendasar dalam respons global terhadap krisis ini.  Lebih jauh lagi, COP29 mengungkap ketidaksetaraan gender yang signifikan dalam dampak dan respons terhadap perubahan iklim, sebuah isu yang disuarakan secara lantang oleh para biarawati Katolik dan organisasi perempuan.   ...

Seruan Paus Fransiskus: Prioritas Kemanusiaan di Atas Politik

  (Photo CNS /Lola Gomez) Seruan Paus Fransiskus untuk mengakhiri hukuman mati, mengalihkan dana militer ke program-program kemanusiaan, dan menghapus utang negara-negara berkembang merupakan lebih dari sekadar seruan politik; ini adalah deklarasi moral yang kuat yang berakar pada prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dan etika keberlanjutan.  Pernyataan yang disampaikan menjelang Tahun Yobel – sebuah periode pengampunan dan pembaruan rohani – merupakan pengingat akan tanggung jawab kolektif kita terhadap keadilan sosial, martabat manusia, dan keberlanjutan planet ini. Pertama, seruan untuk menghapus hukuman mati selaras dengan Deklarasi Universal HAM, yang menjamin hak untuk hidup.  Hukuman mati, sebagai pencabutan hak hidup yang disengaja, merupakan pelanggaran HAM yang serius. Paus Fransiskus, dengan konsisten menolak hukuman mati, menekankan martabat intrinsik setiap individu, terlepas dari kejahatannya.  Ia menyerukan pendekatan yang lebih manusiawi, berfokus ...

Wajibkah Perempuan Katolik Memakai Mantila?

     Seorang wanita berkerudung putih duduk di bangku gereja saat Misa di St. Louis.  Katedral Patrick di Kota New York 15 Mei 2023. (Foto OSV News/Shannon Stapleton, Reuters) Penggunaan mantilla di kalangan perempuan muda Katolik, yang dibahas dalam episode "Jesuitical" minggu 7 Desember 2024, memicu refleksi yang lebih luas mengenai hubungan antara tradisi keagamaan, identitas personal, dan kebebasan beragama.  Fenomena ini, yang diamati oleh Madeleine Kearns, editor asosiasi di The Free Press, menunjukkan kompleksitas pemahaman dan praktik keagamaan di era modern.  Lebih dari sekadar tren mode, penggunaan mantilla oleh perempuan muda Katolik ini merepresentasikan pergulatan internal yang lebih dalam tentang makna spiritualitas dan identitas dalam konteks Gereja Katolik. . Kearns berpendapat bahwa kebangkitan tren penggunaan mantilla menunjukkan keinginan untuk kembali kepada "Katolikisme yang hilang," sebuah bentuk spiritualitas yang menekankan penghorma...

Teologi yang Inklusif: Menjembatani Kesenjangan Gender dan Membangun Dunia yang Lebih Baik

     Paus Fransiskus berbicara kepada para peserta konferensi teologi yang diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pendidikan selama pertemuan di Vatikan pada 9 Desember 2024. (Foto CNS/Vatican Media) _____ Senin, 9 Desember 2024, Paus Fransiskus menyampaikan seruan penting kepada peserta konferensi teologi yang diselenggarakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pendidikan di Vatikan. Dalam pernyataannya, beliau menekankan perlunya teologi yang lebih inklusif, aksesibel, dan kompleks, yang memiliki implikasi mendalam bagi dunia modern, terutama dalam konteks kesetaraan gender dan respons terhadap tantangan global. Paus Fransiskus secara tegas menyatakan bahwa "Teologi yang hanya berpusat pada perspektif laki-laki tidaklah lengkap." Pernyataan ini mencerminkan pengakuannya akan peran penting perempuan dalam memahami dan menginterpretasikan ajaran agama. Selama berabad-abad, perempuan telah terpinggirkan dalam dunia teologi yang didominasi oleh perspektif laki-laki, deng...