Langsung ke konten utama

Bongkar Kesalahan untuk Menemukan Kesalahan


"Kebenaran bukan berada dalam kebenaran, kebenaran ada dalam kesalahan" 


Saya ingat beberapa waktu lalu pernah melihat sebuah video yang cukup populer.  Video tersebut menampilkan seorang kakek yang tampak ceria dan bersemangat menjelaskan pandangannya tentang "kebenaran," mungkin dalam sebuah wawancara atau percakapan dengan si pembuat konten.  Video tersebut telah dibagikan berkali-kali dan ditonton oleh banyak orang.

Apa yang menarik dari konten tersebut? Apa yang disampaikan oleh sang Kakek Tua tersebut?  Tampak sederhana tetapi penuh makna yakni ajakan untuk melepaskan diri dari zona nyaman keyakinan dan dogma yang mapan. Ia mengajak kita untuk menyelami realitas bahwa kebenaran seringkali tersembunyi di balik kesalahan, baik yang kita perbuat maupun yang kita saksikan di sekitar kita.

Membongkar kesalahan, bukanlah tugas mudah. Kesalahan seringkali terselubung dalam lapisan-lapisan kebiasaan, kepentingan pribadi, bahkan dogma yang telah tertanam kuat dalam masyarakat. Untuk membongkarnya, dibutuhkan keberanian, keteguhan hati, dan komitmen yang kuat pada kebenaran, bahkan jika itu berarti menghadapi penolakan dan permusuhan.

Perikop Injil Markus 11:15-19, memperlihatkan ketegasan Yesus  menghardik para pedagang yang berjualan di halaman Bait Allah. Tindakan-Nya, meskipun terlihat kasar, merupakan manifestasi dari kasih-Nya terhadap Bait Allah dan kehendak-Nya untuk mengembalikan fungsi Bait Allah sebagai tempat berdoa dan menyembah Tuhan.

Pada waktu dan tempat lain, Yesus juga menentang para pemimpin agama yang munafik, (Matius 23:27-28: "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai orang-orang munafik, karena kamu sama dengan kuburan yang dilabur putih, yang tampak indah di luar, tetapi di dalamnya penuh tulang belulang dan segala jenis kekejian.") Kritik tajam-Nya, meskipun terasa menusuk, merupakan bentuk kasih yang ingin mengarahkan mereka kembali pada jalan kebenaran.

Membongkar kebenaran tidaklah mudah. Yesus sendiri menghadapi penolakan, permusuhan, dan bahkan kematian akibat ajaran-Nya yang berani dan jujur.

Pernyataan Kakek Tua itu menantang kita untuk bertanya pada diri sendiri; Seberapa kuat tekad kita untuk memegang teguh kebenaran, meskipun menghadapi kesulitan atau godaan? Apakah kita berani membongkar kesalahan, bahkan jika itu berarti menghadapi penolakan dan permusuhan? Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, kita mungkin merasa kasih dan keberanian kita tidak selalu cukup untuk menghadapi tantangan ini. Namun, dengan meneladani Yesus, kita dapat belajar untuk terus belajar, berlatih, dan berdoa, sehingga kita dapat semakin mendekati kebenaran dan menjadi pribadi yang lebih berani dalam membongkar kesalahan.

Socrates sering menggunakan metode ironinya untuk menantang pemikiran mapan dan mendorong orang untuk mempertanyakan asumsi-asumsi mereka. "Aku tahu satu hal, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa." Pernyataan Socrates ini menunjukkan bahwa pencarian kebenaran adalah proses yang berkelanjutan dan tidak pernah berakhir. Kita harus selalu terbuka terhadap kemungkinan kesalahan dan siap untuk mempertanyakan apa yang kita yakini. Hal yang kita yakini benar perlu digugat, dipertanyakan dan didiskusikan. 

Santo Fransiskus dari Asisi, misalnya, dengan berani menentang kebiasaan masyarakatnya yang penuh dengan kemewahan dan kemunafikan. Ia memilih hidup sederhana dan mendedikasikan dirinya untuk melayani orang miskin dan lingkungan alam.

Penyair Rumi, dalam salah satu puisinya, menulis: "Jika kamu ingin menemukan kebenaran, pertama-tama kamu harus berani kehilangan." Ia mengingatkan kita bahwa pencarian kebenaran mungkin mengharuskan kita untuk melepaskan diri dari keyakinan lama dan membuka diri terhadap kemungkinan baru.

Mari, terus belajar mempertanyakan, dan bersedia membongkar kesalahan dengan penuh keberanian, seperti yang telah dicontohkan oleh Tuhan Yesus, Socrates, para santo dan santa dan figur lintas iman lainnya. Karena dalam proses membongkar kesalahan, kita yakin akan menemukan kebenaran yang lebih utuh dan mendalam, serta menjadi manusia yang lebih sempurna dalam perjalanan menuju kemanusiaan yang lebih baik.(VM)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

COP29: Utang Ekologis Global

  Demonstrasi aktivis iklim di Baku, Azerbaijan, memprotes target pendanaan $300 miliar yang disepakati COP29 untuk negara berkembang hingga 2035. (Perubahan Iklim PBB/Kiara Worth) COP29: Kegagalan Pendanaan Iklim dan Ketimpangan Gender dalam Krisis Iklim Global   Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-29 (COP29) di Baku, Azerbaijan, menandai titik kritis dalam upaya global untuk mengatasi perubahan iklim.  Pertemuan tersebut tidak hanya ditandai oleh perdebatan sengit mengenai target pendanaan iklim—dengan kesepakatan akhir yang jauh dari angka triliunan dolar yang dibutuhkan—tetapi juga oleh demonstrasi besar-besaran dan kecaman, termasuk dari pejabat Gereja Katolik, yang menyoroti ketidakadilan mendasar dalam respons global terhadap krisis ini.  Lebih jauh lagi, COP29 mengungkap ketidaksetaraan gender yang signifikan dalam dampak dan respons terhadap perubahan iklim, sebuah isu yang disuarakan secara lantang oleh para biarawati Katolik dan organisasi perempuan.   ...